Autisme sebagai Gejala Neurologis

Standar

Penentuan kriteria diagnosis autisme pada DSM-III-R (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, edisi revisi ketiga) dan ICD-10 (International Classification of Disease, revisi kesepuluh) merupakan sumbangan dari survei epidemiologis yang dilakukan oleh Lorna Wing dan Judith Gould di daerah Camberwell, London pada tahun 1970 (Happe, 1994). Tujuan survei ini adalah untuk menemukan ciri-ciri autisme yang selalu hadir secara bersamaan, dan bukan hanya merupakan kebetulan. Hasilnya, Wing memperkenalkan istilah “spektrum autistik” dengan triad impairments, yaitu sosialisasi, komunikasi, dan imajinasi (Frith, 2003; Sacks, 1995). Wing juga menekankan pada adanya kontinum autisme yang berkisar antara mereka yang berfungsi tinggi sampai dengan yang terbelakang. Dalam DSM-IV-R, secara ringkas kriteria diagnostik gangguan autistik adalah

sebagai berikut:

1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial timbal balik:

  1. gangguan yang nyata dalam berbagai tingkah laku non verbal seperti kontak mata,
  1. ekspresi wajah, dan posisi tubuh;
  2. kegagalan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya sesuai dengan
  3. tingkat perkembangan;
  4. kurangnya spontanitas dalam berbagi kesenangan, minat atau prestasi dengan orang
  5. lain; dan
  6. d. kurang mampu melakukan hubungan sosial atau emosional timbal balik.

2. Gangguan kualitatif dalam komunikasi:

  1. keterlambatan perkembangan bahasa atau tidak bicara sama sekali;
  2. pada individu yang mampu berbicara, terdapat gangguan pada kemampuan
  3. memulai atau mempertahankan percakapan dengan orang lain;
  4. penggunaan bahasa yang stereotip, repetitif atau sulit dimengerti; dan
  5. kurangnya kemampuan bermain pura-pura

3. Pola-pola repetitif dan stereotip yang kaku pada tingkah laku, minat dan aktivitas:

  1. preokupasi pada satu pola minat atau lebih;
  2. infleksibilitas pada rutinitas atau ritual yang spesifik dan non fungsional;
  3. gerakan motor yang stereotip dan repetitif; dan
  4. preokupasi yang menetap pada bagian-bagian obyek.

Seorang anak dapat didiagnosis memiliki gangguan autistik bila simtom-simtom di atastelah tampak sebelum anak mencapai usia 36 bulan.

Sumber : Andriana Soekandar Ginanjar

2 responses »

  1. Alhamdulillah, terimakasih ilmunya, ternyata Autis bukan gejala tunggal melainkan terpaut!!! secara genetika ini seperti buta warna pada laki-laki. semoga selain diet ada pula senam or terapi lainnya yang membuat anak autis bisa bersosialisasi misal dengan terapi kelompok atw melalui pemahaman petingnya kebersamaan.

    • insyaallah, saya akan mencari lagi bahan referensi untuk menambahkan materi terapi anak autistik.
      Besar harapan apabila bapa mempunyai materi dan mau untuk berbagi ilmu dalam blog ini, silahkan saja menjadi teman apresiatif dengan mengirim materi melalui e-mail saya : miftah_88tea@yahoo.com (nama bapa akan dicantumkan dalam pustaka tulisannya).
      terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s